Jangan Pernah Gunakan Kekerasan Agar Anak Menjadi Penurut

Jangan Pernah Gunakan Kekerasan Agar Anak Menjadi Penurut

Bagaimana cara mengatasi anak yang memiliki karakter sedikit “bandel” haruskah dengan cara kekerasan, atau tidak? Faktanya ada beberapa anak-anak yang baru mau berhenti melakukan sesuatu yang dilarang oleh orang tuanya setelah dipukul, dicubit, atau ditarik telinganya. Tidak semua anak dapat disama ratakan karakternya. Masing-masing anak memiliki kebutuhan dan karakter sendiri-sendiri, tugas orang tua yaitu memahami lalu menyesuaikan tergantung pada karakter masing-masing anak.

Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa, Dr. Tun Kurniasih Bastaman SpKJ(K). peran mamah sangat penting dalam hal ini, itu dikarenakan naluri seorang ibu mampu mengenal kebutuhan anak tak hanya secara fisik tetapi juga secara psikis dan juga mampu mengetahui kebutuhan anak. Hal ini diharapkan agar anak tidak mendapatkan didikan dan perlakuan yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, karena kekeliruan mendidik dan memperlakukan anak yang bertolak belakang dengan kebutuhannya akan jadi sumber setres bagi anak.

Mam jangan pernah gunakan kekerasan untuk buah hati anda beberapa cara dibawah dapat anda gunakan sebagai alternative untuk membuat si kecil menjadi lebih taat pada aturan yang anda buat.

Jangan Pernah Gunakan Kekerasan Agar Anak Menjadi Penurut

Jangan Pernah Gunakan Kekerasan Agar Anak Menjadi Penurut

  1. Membiasakan anak memiliki sikap terbuka terhadap anada Perhatikan dan pahamilah anak anda bahwa bisa jadi ia tidak taat kepada perintah anda karena ada suatu masalah yang sedang dia alami. Oleh sebab itu, carilah celah untuk berbicara dengan dia dari hati ke hati. Berilah kesempatan kepadanya untuk bicara dan usahakan tidak memotong pembicaraannya.
  2. Jelaskan aturan-aturan itu dengan baik kepadanya dan bimbinglah dia. Misalnya sebagai ganti dari ucapan ”Kembalikan lagi mainanmu ke tempatnya!”, katakanlah ”Adalah hal baik bila engkau mengembalikan mainanmu ke tempatnya agar tidak rusak”, apabila dia menolak, maka katakanlah ”Ayo kita kumpulkan bersama-sama”.
  3. Ganti kalimat yang sifatnya memerintah dengan kalimat yang lebih lembut contohnya : ”Jangan letakkan buku sembarangan!” ganti dengan ”Buku itu tempatnya di rak buku”, dan semisalnya
  4. Jangan memberikan anak kalimat larangan saat dia menginginkan sesuatu namun berikan ia penjelasan ringan yang lembut dan yang mudah ia pahami. Bila anak anda mempunyai keinginan untuk memiliki semua mainan yang dipajang di toko ketika ke pasar, maka ganti kalimat yang bertujuan melarang dengan kalimat penjelasan contoh ”Boleh saja engkau menginginkan semua mainan ini, tetapi sekarang pilihlah satu saja dan yang lain untuk waktu yang akan datang”
  5. Jangan salahkan anak jika ia salah namun jelaskan kesalahan yang diperbuatnya. Misalnya katakanlah ”Perbuatan ini tidak benar”, jangan katakan ”Apa yang telah kamu perbuat?”. jangan pula mengatainya dengan bodoh atau malas, karena akan melukai perasaannya dan menjadikannya rendah diri
  6. Memberi anak pujian saat ia telah melaksakan tugasnya contohnya berikan kalimat seperti “anak yang rajin” atau “kamu sangat pandai nak”. Dan juga beri kalimat apresiasi contohnya ”Jazakallahu khairan” atau ”Pekerjaan yang hebat”
  7. Jangan mengancam mengancam dan “menyuap”. Mengancam justru akan membuat si kecil perlahan-lahan akan mengacuhkan anda. Demikian juga “suap” akan menjadikannya tidak mentaatimu sehingga engkau mengatakan kepadanya ”Aku akan memberimu mainan baru jika kamarmu bersih”, maka dia menaati anda karena ingin mainan bukan untuk membantu keluarganya atau melaksanakan kewajibannya